Warisan Rasa yang Menggugah Selera

Indonesia, negeri dengan ribuan pulau dan budaya, menyimpan harta kuliner yang tak ternilai. Salah satunya adalah kuliner fermentasi—proses pengolahan yang tak hanya memperpanjang umur bahan pangan, tetapi juga menciptakan cita rasa unik yang memikat. Dari ujung Barat hingga Timur, setiap daerah punya cerita fermentasinya sendiri. Tradisi Kuliner akan menelusuri delapan kuliner fermentasi khas Indonesia yang telah melegenda!

Kuliner Fermentasi

1. Tempe: Si Emas Fermentasi dari Kedelai

Sejarah Tempe yang Mendunia

Siapa tak kenal tempe? Makanan berbahan dasar kedelai ini sudah menjadi ikon Indonesia. Proses fermentasinya melibatkan Rhizopus oligosporus, jamur yang mengikat biji kedelai hingga membentuk padatan kompak. Konon, tempe sudah ada sejak era Kerajaan Mataram di abad ke-16. Kini, pengolahan tempe tak hanya dengan cara menggoreng, tetapi juga bisa menjadi burger, stik, bahkan es krim!

Kenapa Tempe Sehat?

Kandungan proteinnya setara daging, namun dengan harga terjangkau. Proses fermentasi juga meningkatkan kadar vitamin B12 dan membuatnya mudah untuk tubuh cerna. Tak heran jika tempe terkenal sebagai superfood lokal!


2. Oncom: Fermentasi dari Limbah yang Bernilai Tinggi

Dari Ampas Tahu Menjadi Oncom

Oncom adalah bukti bahwa kreativitas tak mengenal limbah. Terbuat dari ampas tahu atau bungkil kacang tanah, oncom melalui proses fermentasi menggunakan Neurospora sitophila—jamur berwarna oranye yang memberi tekstur khas. Makanan khas Sunda ini sering kita temui menjadi sambal oncom atau bisa juga menjadi lauk setelah proses goreng.

Rasa Unik yang Bikin Ketagihan

Teksturnya lembut dengan aroma tanah yang khas. Bagi yang belum terbiasa, mungkin agak “asing”, tapi sekali mencoba, lidah akan menari-nari!


3. Tape: Manisnya Fermentasi Singkong dan Ketan

Pertarungan Tape Singkong vs Tape Ketan

Tape adalah camilan manis hasil fermentasi singkong atau ketan. Menggunakan ragi tape (campuran ragi dan bakteri), proses ini mengubah pati menjadi gula dan alkohol. Tape singkong lebih lembap, sementara tape ketan memiliki tekstur kenyal.

Tradisi dan Mitos di Balik Tape

Di Jawa, tape kerap disajikan dalam acara syukuran. Konon, tape ketan hitam dipercaya sebagai aphrodisiak alami. Percaya atau tidak, rasanya memang bikin hati berbunga-bunga!


4. Brem: Minuman Fermentasi yang Memabukkan

Jenis Brem Padat vs Jenis Brem Cair

Brem adalah produk fermentasi beras ketan yang bisa dinikmati dalam dua bentuk: padat seperti permen atau cair sebagai minuman. Brem cair dari Madiun terkenal dengan rasa manis dan kadar alkoholnya yang cukup tinggi—sekitar 5-7%.

Sakralitas Brem dalam Budaya Bali

Di Bali, penggunaan brem biasanya dalam ritual keagamaan. Minuman ini dianggap sebagai penghubung manusia dengan para dewa. Tapi hati-hati, terlalu banyak minum brem bisa bikin kepala “berputar”!


5. Dadiah: Yogurt-nya Minangkabau

Susu Kerbau yang Difermentasi dalam Bambu

Dadiah adalah yogurt tradisional dari Sumatra Barat. Susu kerbau segar dimasukkan ke dalam bambu, lalu difermentasi selama 1-2 hari. Hasilnya? Tekstur kental dengan rasa asam menyegarkan.

Teman Makan Nasi Padang

Penyajian dadiah biasanya dengan ampiang (ketan hitam dan gula merah). Kombinasi asam-manis ini jadi penyeimbang pedasnya rendang dan gulai!


6. Pekasam: Ikan Fermentasi Khas Kalimantan

Proses Pembuatan yang Rumit

Pekasam adalah ikan air tawar (sepat atau lais) yang melalui proses fermentasi dengan garam dan beras ketan. Setelah 3-7 hari, ikan ini dikeringkan dan siap dimasak.

Cita Rasa yang “Nendang”

Aromanya tajam, tapi rasanya gurih dan sedikit asam. Pekasam sering menjadi sambal atau bisa juga goreng hingga kering. Cocok untuk pecinta kuliner ekstrem!


7. Tempoyak: Durian Fermentasi yang Kontroversial

Durian yang “Dibius” Garam

Tempoyak terbuat dari durian yang melalui proses fermentasi dengan garam. Selama 3-5 hari, gula dalam durian berubah menjadi asam, menghasilkan pasta beraroma menyengat.

Bahan Dasar Sambal Tempoyak

Masyarakat Sumatra dan Kalimantan mengolah tempoyak menjadi sambal pedas. Meski baunya “menantang”, sambal ini juara di lidah!


8. Mandai: Kulit Cempedak Fermentasi dari Kalimantan

Dari Limbah Jadi Primadona

Mandai adalah kulit buah cempedak yang melalui proses fermentasi dengan garam. Setelah 1 minggu, teksturnya menjadi kenyal seperti kolang-kaling.

Cara Menikmati Mandai

Biasanya pengolahannya dengan proses gorreng atau menjadi salah satu bahan campuran sayur. Rasanya asam gurih, mirip asinan tapi dengan sentuhan eksotis khas Kalimantan.


Kuliner Fermentasi: Bukan Sekadar Rasa, Tapi Juga Identitas Budaya

8 makanan fermentasi khas Indonesia yang populer ini bukan hanya soal lidah, melainkan juga warisan leluhur yang terus hidup. Setiap gigitan menyimpan cerita tentang kearifan lokal, ketahanan pangan, dan inovasi tanpa batas. Dari tempe yang mendunia hingga mandai yang eksotis, makanan fermentasi adalah bukti bahwa Indonesia tak pernah kehabisan cara untuk memukau dunia. Jadi, mana yang sudah pernah Anda cicipi?

By kuliner

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *